Akhlaq Orang Alim Terhadap Diri Sendiri | Kitab Adabul ‘Alim Wal Muta’allim

Ahad, 04/07/2021

Kitab Adabul ‘Alim Wal Muta’alim Karya KH. Hasyim Asy’ari edisi kali ini membahas bab yang ke lima yakni tentang “akhlaq orang alim wal muta’alim terhadap dirinya sendiri”. Buat anda yang belum sempat mengikuti live streamingnya silahkan ikuti melalui ringkasan yang kami buat disetiap harinya..

Kira-kira kali ini apa ya yang dibahas…? Yuk simak !!

Termaktub dalam kitab karangannya, pengarang kitab, K.H. hasyim Asyari menuliskan pada Fasal ke-14 :

وارابع عشرا
ان يقوم باء ظهر السنن وإماته البدع وبامور الدين وما فيه مصالح المسلمين على الطريق المعروف شرعا المألوف عادة وطبعا، ولايرض من افعاله الظاهرة والباطنة باالجائز منهما، بل يأخذ نفسه باحسنهما واكملهما ، فان العلماء هم القدوة واليهم المرجع فى الاحكام ، وهم حجة الله على العوام وقد يراقبهم الاخذ عنهم من حيث لا ينظرون ، ويقتدى بهدا هم من لا يعلمون، فاذا لم ينتفع العالم بعلمه فغيره ابعد من الانتفاع به ، ولهذا عظمت زلة العالم لما يترتب عليها من المفاسد لاقتداء الناس به

Penjelasan:

Hendaknya seorang Aalim (yang mempunyai ilmu) bertindak dengan menampakkan sunnah-sunnah yang terbaik dan segala hal yang mengandung kemaslahatan kaum muslimin melalui jalan yang dibenarkan oleh syari’at agama islam, baik dalam tradisi atau pada watak. Seorang guru/ Aalim tidak boleh puas hanya dengan melakukan perbuatan yang sifatnya masih lahiriyah dan bathiniyah semata. bahkan seakan ia harus memaksakan dirinya untuk melakukan hal yang terbaik dan sempurna (sempurna dalam kadar manusia yaa…). hal ini dikarenakan aalim merupakan panutan yang digunakan sebagai barometer, sumber rujukan dalam setiap permasalahan yang berhubungan dengan hukum. Seorang Aalim adalah hujjatullah terhadap orang-orang yang bodoh. sehingga terkadang gerak-geriknya pun senantiasa diawasi, dipantau tanpa sepengetahuan aalim. sehingga inilah yang menjadi alasan mengapa setiap nasehat- nasehatnya selalu menjadi panutan bagi orang awam yang belum mengerti.

Apabila seorang alim tidak bisa mengambil sebuah manfaaat dari ilmu yang ia miliki sendiri, maka sungguh apalagi bagi orang lain, yang tentu itu lebih tidak bisa memanfaatkan ilmu. oleh karenanya, kesalahan dan kekeliruan kecil akan bisa berubah menjadi sesuatu yang sangat luarbiasa, jikalau ia berbuat salah, maka perbuatannya itu akan diikuti oleh banyak orang sehingga akan menjadi “Dhollu wa adllolu” sesat dan menyesatkan.

Fasal 15

الخامس عشر
ان يحافظ على المندوبات الشرعية القولية والفعلية، فيلازم تلاوة القران وذكر الله تعالى بالقلب واللسان ، وكذلك ماورد من الدعوات والاذكار فى الليل والنهار ومن الصلاة والصيام ، وحج البيت الحرام مهما قدر على ذلك ، والصلاة على النبى صلى الله عليه وسلم ومحبته واجلاله وتعظيمه والادب عند سماع اسمه وذكر سننه.

Penjelasan :

Membiasakan diri untuk melakukan kesunahan yang besifat syari’at, baik qauliyah atau fi’liyah. Seperti membaca al Qur,an, dzikir kepada Allah ta’ala baik didalam hati atau lisan , membaca do’a dan zikiran kepada Allah baik siang atau malam.

menunaikan shalat dan puasa, melaksanakan ibadah haji kalau memungkinkan dan sebagainya. Membaca shalawat kepada nabi, mencintainya, mengagungknnya, memulyakannya, dan memakai etika dan sopan
santun yang baik ketika mendengar nama beliau, dan tradisi-tradisi beliau disebutkan.

(Dikutipdariterjemahkitab adabulalimwalmuta’alim)

Link Live Streaming Fanspage Facebook : https://www.facebook.com/107591854231880/videos/190361463029690/

Penasaran dengan kelanjutannya…? Stay Tune

Writer : Tim SKP Media Center

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *